Tingkatan Penulis Menurut Stephen King

Beberapa waktu lalu saya kebetulan membaca sebuah buku kecil dari novelis populer Amerika, Stephen King. Judulnya On Writing. Buku ini bukan karya fiksi, melainkan sebuah memoar sekaligus uraian tentang menulis. King menulisnya sebagai sebuah terapi, untuk menghadapi trauma. Sebelumnya, ia mengalami kecelakaan. Ia tertabrak oleh sebuah van ketika tengah berjalan-jalan di suatu sore.


Dalam uraiannya tentang menulis, King—yang sering disebut sebagai Raja Cerita Horor—menyentuh sebuah soal tentang “para penulis”, atau bila saya tak salah membaca, tentang para penulis fiksi. Di sana, ia menyebut sebuah piramida untuk menggambarkan jenjang kualitas dari para penulis fiksi itu.

King membaginya menjadi tiga jenjang. Pertama, himpunan para penulis buruk yang menghuni lantai dasar piramida, dan karena itu paling banyak. Mungkin, ini digunakan King untuk memperlihatkan bahwa terdapat banyak para penulis yang tak berhasil di luar sana, baik dari sisi penjualan maupun sisi pengakuan kritikus dan apresiasi masyarakat. Kedua, himpunan para penulis baik yang menghuni bagian tengah piramida. Jenjang ini oleh King dimaksudkan sebagai antitesis dari jenjang pertama. King memasukan namanya sendiri dalam kategori ini. Lalu, jenjang terakhir, adalah bagian puncak piramida, bagian paling sedikit, yang menurut King dihuni oleh para penulis genius, semacam Shakespeare atau Hemingway.
Menurut King, kita bisa berpindah dari jenjang yang pertama hingga kedua; dari himpunan para penulis buruk ke himpunan para penulis baik. Tapi ke himpunan paling atas?
Di hadapan para penulis genius seperti itu, lanjut King, kita hanya bisa berterima kasih, karena (tulisan-tulisan) mereka  hadir untuk memberi kita visi mengenai tempat atau masa di mana kita hidup dan tinggal. Mereka memberi kita pengertian yang lebih dalam mengenai hakikat hidup. Dan kemampuan yang mereka miliki, bukanlah sejenis kemampuan yang bisa kita rengkuh dengan latihan dan kerja keras. Kemampuan yang mereka punyai, menurut King, adalah sesuatu yang given, terberi. Semacam berkat. Lewat latihan dan kerja keras kita mungkin saja sampai pada jenjang kedua dari piramida, tapi untuk sampai ke puncaknya, kita tak cukup hanya membawa tiket berupa ketekunan.
Benarkah Stephen King? Saya tak tahu. Yang saya tahu, King sepertinya yakin tentang hal itu. Ini mungkin menjelaskan mengapa di bagian dua bukunya itu, bagian yang membahas tentang proses menulis, King lebih banyak berbicara tentang teknik: tentang membikin kalimat efektif, tentang membuat dialog yang hidup, tentang menyusun plot, dsb. Dengan kata lain, King lebih fokus pada bagaimana membikin cerita yang baik dan menarik secara tradisional atau konvensional, karena itu merupakan suatu teknik yang bisa diajarkan, teknik yang bisa membuat penulis buruk menjadi penulis baik. Dan, King, dalam On Writing, melakukannya dengan bagus sekali. (*)
Tulisan ini juga pernah terbit di thesheepman.id oleh Ketz
More Stories
A Long Long Sleep – Menguasai Galaksi Bima Sakti Lewat Kata “Maaf, Kamu Terlalu Baik Buat Aku”
error: Content is protected !!