Tentang Puisi Putri Marino, Sutardji dan Aturan Menulis Puisi

Buku Kumpulan Puisi Putri Marino

Udah lama banget enggak nulis di mari. Aslinya beberapa hari yang lalu, saya lagi kangen sama bedebah soalnya enggak ada gosip dan faktor utama nulis di mari adalah, saya lagi resah gara-gara warganet dan puisinya Putri Marino.

Awa tahun yang lalu, warganet di twitter sempat meributkan buku puisi karya salah satu artis di Indonesia bernama Putri Marino, yang baru saja terbit. Salah satu warganet menyebut salah satu puisi Putri tidak termaafkan. Saya mengikuti Putri Marino di instagram dan saya juga tahu dia menulis caption instagramnya dengan kalimat puitis, baru kemudian salah satu penerbit membukukan caption-caption instagramnya. Lantas apakah caption-caption instagram milik Putri Marino layak disebut sebagai puisi?

Oke, bahasan kali sepertinya agak sedikit rumit dan teoritis, tapi yaudala bodo amat. Saya melihat hal ini dengan sudut pandang saya sebagai orang yang pernah kuliah sastra (yang kebetulan bukan ahli juga). Kami menyebut kuliah sastra sebagai ilmu sastra. Ada tiga hal yang saya pelajari mengenai ilmu sastra; karya sastra, kritik sastra dan teori sastra.

Karya sastra sendiri secara sederhana adalah seni yang menggunakan bahasa sebagai medianya. Puisi adalah salah satu bagian dari karya sastra itu sendiri. Kritik sastra adalah dibuat untuk mengkritisi, menghakimi, mengkaji dan menafsirkan ilmu sastra secara luas dan gamblang dengan pendekatan dan teori tertentu (dan bersifat sangat subyektif). Hasil kritik sastra memungkinkan orang-orang awam memahami karya sastra yang cenderung sulit dipahami. Sedangkan teori sastra adalah aturan sistematis mengenai sastra dan metode untuk menganalisis karya sastra. Biasanya, teori sastra baru terbentuk setelah adalah penelitian mengenai karya sastra yang ditulis pengarang dan juga hasil kritik sastra. Jadi semakin berkembangnya karya sastra dan kritik sastra, secara otomatis teori sastra juga akan terus berubah tergantung akademisi sastra yang melakukan penelitian.

Oke, kembali soal puisi biar Anda tidak terlalu mumet dan memutuskan lebih baik mencintai saya, prettt!  Sejauh pengetahuan saya setelah mempelajari sejarah sastra, puisi sudah mengalami banyak perubahan. Dari awalnya yang terikat aturan sajak AA-BB seperti gurindam Raja Ali Haji, pantun yang bersajak AB-AB atau AA-AA, sampai akhirnya tahun 1945 Chairil Anwar mendobrak aturan puisi ini menjadi lebih bebas dan tanpa terikat aturan. Lepas Chairil membuat ulah, Sutardji muncul dengan kredo puisinya. Sutardji ingin melepaskan kata-kata dari maknanya dan menonjolkan kata-kata sebagai bunyi. Dari pengantar antologi puisi O, Amuk Kapak yang dibuat Sutardji tahun 1981 dia mengatakan, “menulis puisi buat saya adalah membebaskan kata-kata, yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya.” Sutardji akhirnya banyak menulis puisi mantra yang sekilas enggak bisa ditafsirkan (padahal soal tafsiran kan subyektif).

Melihat fenomena sejarah perpuisian kita, yang udah diobrak-abrik seenaknya oleh Chairil dan Tardji, apakah caption Putri Marino masih layak disebut puisi? Begini, saya mahasiswa sastra dan saya juga menulis. Saya menulis cerpen, saya menulis puisi, saya juga pernah menulis novel. Saya kasih tahu satu hal, sebagai seorang pengarang, masuk jurusan sastra adalah kesalahan besar. Kuliah sastra di negara ini, sebagian besar yang dibahas adalah teori-teori dan teori sampai saya lulus kuliah. Selama kuliah saya mabok teorinya A. Teuww. Kuliah sastra adalah penjara bagi kreativitas seorang pengarang. Semakin saya mengerti berbagai macam teori sastra, semakin saya hati-hati sebagai seorang penulis. Setiap saya ingin menulis, saya sudah dihantui dengan standarisasi sastra yang baik dan benar dari buku-buku teori sastra yang saya baca.

Mengarang adalah pekerjaan berpikir kreatif yang harusnya tidak ada aturan yang terikat. Saya ingin bilang bahwa, mengarang tidak butuh teori apapun. Siapapun yang menulis tentang cara mengarang yang baik dan benar, saya tekankan bahwa itu semua omong kosong! Enggak ada teori yang paten mengenai mengarang. Teori mengarang hanya milik pengarang itu sendiri. Dosen saya pernah bilang, “Pengarang adalah tuhan untuk tokoh-tokoh dan dunia yang dia ciptakan.” Jadi, ketika menulis, abaikan semua teori sastra dan kritik sastra. Teori sastra biarlah menjadi urusan peneliti dan akademisi sastra dan kritik sastra biarlah menjadi tanggung jawab kritikus sastra dan warganet julid. Tugas pengarang hanya membaca buku yang berkualitas dan menulis dengan sebebas-bebasnya.

Trus urusan Putri Marino gimana? Jawabannya jelas, itu hak Putri untuk menulis. Terserah dia, suka-suka dia. Urusan lu apa soal kepengarangan Putri?

Kelar.

More Stories
Anak-anak Pantai Cerpen
Anak-anak Pantai [Cerpen]
error: Content is protected !!