Kasta Komentar Pembaca Cerita Daring


Pada tulisan sebelumnya yang ditulis oleh Tutut Laraswati, sudah dijereng artikel tentang pembagian kasta pembaca. Nah, kali ini saya mau ngelanjutin tulisan Tutut dengan tipe-tipe komen pembaca. 

Seiring dengan berkembangnya teknologi, media kepenulisan daring semakin banyak. Sebut saja Wattpad, Storial, Webnovel, Figment, Penana, Bookslife, dan lain sebagainya. Lambat laun, kepopularan buku cetak semakin dikejar oleh buku-buku daring. Selain lebih praktis dan ramah lingkungan, media daring juga menjanjikan lahan untuk meraup rupiah dari tulisan kita. Media daring pun lebih longgar. Sebuah karya tulis bisa langsung aja nyelonong terbit, tanpa lewat pintu editor dan seleksi yang ketat. Ini yang membuat mutu tulisan daring lebih rendah. Karena saringannya jebol, maka banyak tulisan tampil bugil apa adanya. Jadi, jangan heran kalau menemukan tulisan yang (sorry to say) bikin mata sepet hanya dengan membaca paragraf pertama.

Sama seperti penulis luring, penulis daring pun punya fans yang bisa melambungkan namanya. Algoritma media daring pun dibuat sedemikian rupa agar sejalan dengan trend kepenulisan masa kini. Makin banyak yang baca, makin banyak yang berlangganan, makin banyak yang berkomentar, maka kredit si penulis pun bertambah dan membuatnya semakin popular di media daring tempatnya menulis. 

Penulis tidak bisa dipisahkan dengan pembaca. Kita menulis cerpen, novel, puisi, essai, review, dan sebagainya dengan harapan ada yang membaca. Sukur-sukur ada yang terinspirasi, istilah kerennya adalah memunculkan momen kreatif pembaca saat mereka membaca karya kita. Rata-rata semua penulis seperti itu, kecuali mereka yang menulis diary atau daftar kasbon di warung kopi samping rumah tempat rider ojol mangkal. Sebab, diary dan daftar utang adalah rahasia. Jangan sampai dibaca orang, aib! 

Pembaca kadang-kadang meninggalkan komentar. Ya! Komentar pembaca layaknya emblem yang bisa membuat penulis punya derajat. Siapa sih yang tidak suka kalau tulisannya diapresiasi? Entah itu dalam bentuk rating, ulasan, atau sekadar komentar ringan pada tulisan kita. Saya pun juga demikian. Sebagai penulis saya senang sekali ada yang mengomentari tulisan saya. Komentar-komentar pembaca memacu saya untuk melanjutkan tulisan saya dan membuatnya lebih baik (jika saya menulis novel) atau membaca lebih banyak lagi buku yang mendukung teori saya (jika saya menulis opini).

Ada dua golongan pembaca menurut ekspresinya. Satu, pembaca jenis Mage (kalau kalian main Mobile Legend pasti tahu). Sakti mandraguna, magician, karena sebenarnya mereka ada, tetapi tak kasat mata. Mereka adalah golongan pembaca yang membaca tulisan tanpa meninggalkan jejak, datang tak diundang dan pergi tak diantar—seperti jelangkung. Mau suka sama tulisannya, mau eneg, mau terinspirasi, mau terintimidasi, mereka akan menyimpan kesan itu untuk diri mereka sendiri. Jenis yang kedua adalah pembaca kucing. Pembaca jenis ini selalu meninggalkan jejak. Entah eek, kencing, suara eongan, atau rambut-rambut yang rontok. 

Mari kita telaah jenis pembaca kucing ini.
Saya ambil sepuluh contoh komen dari sekian banyak komentar yang mampir pada tulisan saya. 
  1. Lanjutkan Thor!
  2. “Ah! Sebel si (sebut nama karakter) gegabah banget!”, “Ah, aku baper”, atau “Pengen meluk (sebut nama karakter) dan kubawa pulang”
  3. Nice
  4. (Emoticon hati)
  5. Enggak semuanya begitu kali — lalu membeberkan teorinya panjangxlebarxtinggi
  6. Disimak, bukan di simak. Di sana, bukan disana. Typo!
  7. Hai, Kak. Bisa baca tulisan saya yang berjudul (sebut judul) Mohon kritik dan sarannya, terima kasih.
  8. Kunjungan balik! Wah ceritanya bagus
  9. Kenapa si (sebut karakter) enggak pergi aja? Kalau pergi kan dia selamat. Seharusnya si (sebut karakter) begini, enggak begitu. 
  10. Coba kamu baca artikel tentang body decomposition, tulisanmu ini enggak logis.

Dari contoh-contoh komen di atas, saya coba mengklasifikasikan tipe-tipe komentator seperti di bawah ini.

Tipe gajah
Tipe ini adalah tipe teragung dari kasta komentator. Kenapa saya namakan tipe gajah? Itu kan judulnya lagunya Tulus! Yap! Komentar dari komentator ini tulus karena lahir dari keinginan mengapresiasi tulisan yang mereka baca. Bentuknya pun bermacam-macam, tetapi pada umumnya adalah mereka yang menulis review dan rating dengan jujur. 

Tipe penyemangat
Biasanya komen cuman satu atau dua kata, isinya positif seperti: Lanjutkan! Gak sabar nunggu bab berikutnya! Dan lain sebagainya.

Tipe pengkritik
Yang paling ekstrim adalah komentator yang menguliti tulisan kita sampai ke tulang-tulangnya. Bagus kalau kritikannya masuk akal, bermutu, dan motifnya baik. Tapi, kalau motifnya buruk dan kritiknya ngawur? Ya wasalam. Yang ada cuman keliatan komentar bego.

Tipe polisi EBI
Ini yang saya suka. Awal-awal saya menulis, saya sering mendapat kritikan tentang kaidah penulisan bahasa Indonesia. Saya pun sebaliknya, sering memberi komentar tentang EBI pada karya lain (belajar dari pengalaman). Bagi penulis mula, ini sangat bermanfaat. Penulis jadi tahu mana yang benar dan salah. Komentar seperti ini membangun habit yang baik untuk memakai kaidah bahasa dengan benar dan konsisten hingga pada suatu saat penulis mula ini tidak sadar sudah menjadi fotokopian Ivan Lanin.

Tipe penyetir
Tidak sedikit komentar-komentar yang memaksakan penulis untuk membelokkan jalan cerita. Harusnya gini, bukan gitu. Kalau gini, nanti konfliknya enggak dapat. Tipe seperti ini bisa membantu dan juga menjerumuskan. Kalau ada penulis spontan (terutama novel) yang mengandalkan insting untuk membuat cerita, hal ini bisa menjadi masukan. Bagus sih, kalau memang sudah mahir. Namun, jika si penulis spontan masih tahap belajaran, ya ini kayak orang buta menuntun orang buta. Rusak cerita deh.

Tipe promosi
Ini yang paling bikin saya sebel. Kenal enggak, tiba-tiba nongol di kolom komen minta tulisannya dikomenin. Mending kalau private message, lebih personal. Atau, atau enggak apa-apa di kolom komen yang bisa dibaca semua orang, asal adressnya lebih personal, sebut nama. Tapi, seringnya tipe-tipe pengomen seperti ini modal copas, nyebar spam ke mana-mana. Urat malunya udah putus kali.

Tipe udang dibalik batu
Kalau yang ini mirip dengan yang tipe promosi, tetapi lebih smooth mainnya. Tipe-tipe ini suka nongol di mana-mana hanya dengan satu kata di tiap komen. Nice, lanjutkan, bagus, dan sejenisnya—tanpa membaca dengan saksama tulisan tersebut, atau membaca tapi skimming doang. Istilah medisnya sih, one-liner. Tipe-tipe seperti ini adalah tipe social climber. Harapannya, dikomen balik di lapaknya, atau sukur-sukur difollow.

Tipe sungkan
Ini biasanya berlaku kalau si penulis dan komentator saling kenal dan sama-sama punya karya. Biasanya bentuknya pujian, kecuali kalau si empunya karya memang minta tulisannya dibantai, barulah muncul Alucard dengan skin Fiery Inferno dengan membawa pedang membara berupa komentar ganas.

Tipe Wajib Militer
Kalau ini hanya terjadi di komunitas menulis. Misalnya di komunitas Dimensi Kata, ada jadwal Seninan—yang anggotanya wajib membawakan satu cerpen koran lalu membuat komentar tentang kelebihan dan kekurangan cerpen tersebut. Lalu ada tantangan bulanan, yakni, setiap anggota Dimensi Kata membuat sebuah cerpen dengan poin-poin yang sudah disepakati sebelumnya, lalu ramai-ramai dikomentari. Dan ini wajib, kayak wamil di korsel gitu! Kalau enggak, anggotanya bakal kena SP dan kalau udah banyak SP  akan didepak. Fak! Bayangin betapa keselnya saya sebaga Gong Yoo!

Tipe Minion
Biasanya datang bergerombol seperti minion. Ada dua jenis minion. Yang satu karena fanatik, yang kedua karena setia kawan. Kalau tipe minion fanatik, masih bisa dimengerti. Biasanya muncul pada cerita-cerita fanfic dari tokoh idola. Biasanya mereka saling berbalas komentar memuja sang idola. Yang kedua, ini yang bikin bingung. Komentar tipe minion setia kawan kebanyakan enggak ada kaitannya dengan cerita yang seharusnya dikomentari, sama sekali enggak nyambung. Biasanya muncul karena disummon, pada karya yang kontroversial. Mereka muncul untuk membalas komentar lain yang sudah ada, untuk membela teman yang komentarnya dihajar habis-habisan dan saling back up (baca : bacok). Kolom komentar pun berubah jadi medan laga.

Tipe Najis
Ini adalah tipe komentator yang paling rendah. Si komentator rela membuat akun palsu dan sengaja menulis komentar untuk menjatuhkan penulisnya. Ada? Ada!

Semoga bermanfaat (ya kali bermanfaat). Kalau ada lagi jenisnya bisa ditambahkan ya!





More Stories
PUISI “AKU INGIN” SAPARDI DJOKO DAMONO
error: Content is protected !!