Buku Jelek vs Buku Bagus: Buku Jelek Itu Ada atau Semua Cuma Soal Selera?

Apakah Buku Jelek Memang Ada atau Sekadar Mitos?

Baru-baru ini muncul diskusi soal Buku Jelek VS Buku Bagus di grup Dimensi Kata, buku yang disebut jelek itu yang seperti apa? Buku yang bagus yang seperti apa? Apakah semua buku pada dasarnya bagus dan yang membedakan jelek serta bagusnya hanya sejauh selera saja?

Diskusi Soal Buku Jelek=Tabu?

Hal yang membuatku tergelitik adalah ketika melihat banyak orang menghindari diskusi soal kriteria buku yang seperti apa yang bisa dianggap jelek, seolah mendiskusikannya adalah sebuah dosa besar. Pantangan.
Beberapa orang lebih memilih main aman, berpendapat bahwa buku jelek itu tidak ada karena semuanya terserah masing-masing pribadi, semuanya kembali ke selera para pembaca. Beberapa yang lain menegur bahwa tidak ada gunanya mendebatkan mana yang jelek dan mana yang buruk karena pasar selalu berubah. Banyak penulis yang tidak laku pada masanya tapi tulisannya jadi booming lama setelah penulis tersebut meninggal, sehingga menjadi bukti bahwa selera masyarakat pasti berubah, karena itu tidak ada gunanya mendebatkan soal “bagus” vs “jelek” sebuah buku.

Mungkin ini penyakit …

Tiada gading yang tak retak. Yang sempurna hanya Allah. Semua orang pasti ada salahnya. Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu.

Ada lebih banyak lagi kata-kata mutiara, idiom, pepatah, perikop, yang familiar di Indonesia yang sering digunakan untuk mengingatkan bahwa kita harus tetap rendah hati, tetap humble, tetap berpikir bahwa kita juga salah dan karena itu tidak punya hak menghakimi orang lain.

Ini nggak salah karena nyatanya meski orang Indonesia memproklamirkan diri sebagai bangsa yang ramah, kita ini makhluk self pretentious yang gemar menghakimi. Namun jadi salah kalau idiom di atas yang tujuannya digunakan untuk mengingatkan diri agar ngaca, kemudian digunakan juga untuk menahan terjadinya diskusi.

Jadi salah ketika kita memandang bahwa menilai sebuah karya secara obyektif sama saja dengan menghakimi.

Beberapa orang menghindari diskusi seperti ini karena takut pada akhirnya diskusi akan berubah jadi ajang penghakiman pada penulis. Ada juga yang sudah terdogma untuk “tidak menghakimi orang lain, stay humble” sehingga jadi takut membuat penilaian. Takut salah, takut dirinya berdosa karena menghakimi, takut kelihatan sok, takut dituntut balik dengan retorika ‘memangnya kamu sendiri sudah bikin apa?’.

Tenang!

Semua hal buruk, semua kedengkian dan penghakiman akan terjadi kalau dan hanya kalau kamu nggak obyektif ketika menilai sesuatu. Ketika kamu menilai sesuatu dengan pendekatan terlalu personal, mencampurkan selera pribadi serta kecenderungan atau bias lainnya, penilaianmu otomatis jadi nggak obyektif, dan kalau nggak hati-hati malah bisa jadi bumerang buat diri sendiri.

Apakah menilai secara subyektif itu salah? Nggak, nggak salah. Hanya saja penilaianmu yang subyektif itu otomatis jadi nggak valid diterima sebagai penilaian umum, penilaianmu bukan penilaian yang fair karena hanya sesuai dengan selera 1 individu pribadi sementara manusia kan nggak cuma kamu seorang. Aku dan kamu belum tentu senada, apalagi kamu dan milayaran orang lain di dunia ini. 

Subyektif vs Obyektif

Kalau subyektif adalah tergantung selera pribadi dan preferensi pribadi, lalu yang obyektif itu seperti apa?
Untuk bersikap adil, kita bisa ambil unsur-unsur penting untuk dibandingkan atau dijadikan penilaian. Misalnya:
Apakah buku itu penuh dengan hal klise?
Apakah buku itu plotnya logis?
Apakah karakterisasinya kuat?
Apakah ending-nya dieksekusi dengan masuk akal?
Apakah penggunaan diksinya sesuai dengan tema cerita maupun dengan karakterisasi tokoh?
Apakah latarnya masuk akal?
Apakah world building-nya bisa diterima?
Apakah dialog-nya mengalir atau buku itu penuh dengan On-The-Nose Dialogue?
Apakah isi buku itu jelas maksud dan tujuannya?
Apakah filler serta info-dump lebih banyak daripada inti cerita?
Apakah struktur ceritanya ada atau berantakan?
Ada banyak daftar lain yang biasa digunakan sebagai standar ukur, tapi sederhananya ada pada pertanyaan-pertanyaan di atas. Kita bisa menggunakan pertanyaan-pertanyaan semacam itu untuk mengukur apakah sebuah buku bisa disebut bagus atau jelek. Buku yang ditulis dengan jelek baik dari sisi logika maupun sisi teknis (penulisan, tata bahasa, susunan narasi) jelas adalah buku yang jelek. Penilaian ini tentu saja debatable, tapi setidaknya debat itu akan dibawa pada ranah obyektif, lepas dari soal selera pribadi masing-masing. Kita akan berdebat soal teknis, soal hal-hal yang adil untuk menilai karya secara umum.

Tapi Buku yang Jelek Banyak yang Suka!

Ketika berdiskusi kemarin, ada yang memberiku pertanyaan hipotetikal, “Kalau sebuah buku kamu nilai jelek tapi banyak yang suka, lalu gimana?” 
Jawabannya adalah: ya nggak gimana-gimana. Mungkin beberapa orang memang suka jenis cerita yang seperti itu, mungkin mereka suka tokoh itu, mungkin mereka suka sama penulisnya, ada banyak kemungkinan! Dan aku berpendapat bahwa selera adalah hal yang nggak bisa dikategorikan jadi jelek atau bagus. Soalnya selera adalah hal yang subyektif. 
Nggak bisa juga diambil kesimpulan “berarti dia seleranya buku jelek” soalnya belum tentu. Selera seseorang nggak bisa ditentukan cuma dari satu buku. Apalagi penilaian soal selera itu tergantung dari apa yang dilihat orang tersebut dari obyek yang disukainya. 
Contoh, ada orang-orang penggila genre fantasi. Jenis orang yang tergila-gila dan haus membaca genre itu, nggak peduli meski buku fantasi yang mereka baca ditulis dengan jelek maupun ditulis dengan buagus, mereka tetep bakal suka dan melahapnya karena alasan fantasi tadi, alih-alih karena hal teknisnya. Dan kalau begitu, tentu nggak bisa kita simpulkan bahwa mereka adalah jenis orang yang suka buku jelek.
Kalau seseorang memang suka jenis buku yang banyak saltiknya, nggak logis, penuh plothole, tanpa karakterisasi, barulah bisa kita bilang bahwa orang tersebut seleranya buku jelek.

Argumentum ad Populum

Aku ingat kemarin ada juga yang bilang padaku begini:
Kalau sebuah buku penuh plot-hole, terjemahan berantakan, maka benar bahwa aku akan menganggap yang mengerjakan buku itu nggak terampil. Soal kenapa bisa jadi begitu tentu lebih tepat ditanyakan pada orang terkait di balik buku yang dimaksud sebagai contoh.
Ketika menilai soal kualitas buku jelek dan bagus, kita nggak mencari soal salah siapa, jadi pertanyaan “siapa yang harus disalahin” nggak relevan di sini. 
Dan yang terakhir:

Kualitas berbeda dengan kuantitas, bahkan seringnya nggak berhubungan.

Sebuah buku disukai banyak orang belum tentu buku tersebut jadi berkualitas dan bisa disebut buku bagus, vice versa.
Sebuah buku dikerjakan oleh banyak orang tidak lantas menjadikan buku tersebut jadi lebih berkualitas dibandingkan yang dikerjakan oleh sedikit atau satu orang, vice versa.
Adalah hal yang keliru kalau kamu berpendapat sebuah karya pasti bagus karena disukai oleh banyak orang. Dalam hal ini, kuantitas tidak menentukan kualitas.

Kesimpulannya Gimana?

Sama halnya bahwa buku yang bagus itu eksis, buku yang jelek juga eksis. Hal itu harus diterima dengan jujur. 
Mungkin kita perlu melatih diri sendiri untuk obyektif demi bisa berani berkata bahwa sesuatu itu bagus atau jelek tanpa mengikutsertakan preferensi pribadi maupun bias pribadi dalam memberi penilaian, mungkin pada saat itu barulah kita bisa menerima dan melihat dengan jujur bahwa memang ada buku jelek maupun bagus, lepas dari masalah selera.
More Stories
About a Girl
error: Content is protected !!