Does Your First Pages Have These?

Berawal dari obrolan grup Dimensi Kata, Zeth melempar gambar ini dengan caption “Kalau ada yang ngerti ini, dijelasin dong”. Oke, dengan pengetahuan ang terbatas, saya mencoba mendaur isi dari gambar tersebut. 


Apakah halaman pertama dari ceritamu mempunyai hal-hal berikut ini?

  1. Apakah kamu mengatur bagian-bagian dari ceritamu?
  2. Apakah kamu dengan jelas memperkenalkan tokoh utama?
  3. Apakah kamu menunjukkan sudut pandang dan gaya penceriitaan?
  4. Apakah kamu memperkenalkan tema cerita?
  5. Apakah kamu terlalu memikirkan reaksi pembaca?
  6. Apakah terdapat banyak kejadian?
  7. Apakah kamu menceritakan status quo tokoh dalam ceritamu?
  8. Apakah kamu menyinggung keinginan terbesar dari tokoh utama?
  9. Apakah ada kejadian yang memicu konflik? 
  10. Apakah tokoh utamamu melewati batasan (sehingga memicu konflik)?
  11. Apakah ada pertanyaan menarik untuk halaman pertamamu?

Sebenarnya poin-poin di atas bisa dipecah dalam dua sisi, yakni penulis (nomor 1 dan 5) dan hasil karya (nomor 2,3,4,6 s.d, 11). 

Mari kita bahas nomor 1 dan 5, ini masuk dalam sisi si penulis.

Apakah kamu mengatur bagian-bagian dari ceritamu? 
Mungkin maksud mengatur bagian-bagian dalam cerita ini adalah si penulis sudah punya gambaran apa yang akan ditulis dalam bab-bab selanjutnya. Semisal di bab pertama tokohnya menabrak seseorang, di bab selanjutnya apa yang akan terjadi dengan si tokoh dan si korban? Apakah konflik akan terbangun dari kejadian ini? Konflik yang seperti apa? Apakah akan merujuk pada kejadian/ babak berikutnya?
Apakah perlu seperti itu saat awal kita membuat cerita? Memang seharusnya penulis tahu/ punya gambaran apa yang akan terjadi dari awal hingga akhir cerita, apalagi pada tulisan panjang seperti novel. Konflik utama, relasi kejadian satu dengan kejadian lain, latar tempat dan waktu,  dan elemen cerita yang lain harus sudah ada pada pikiran penulis saat mulai menulis cerita. Namun, pada akhirnya yang terjadi tergantung pada proses kreatif penulis itu sendiri. Seringkali di tengah bab, penulis menghadirkan babak baru yang tidak ada dalam master plan sebuah cerita. Bahkan, wajib ditambahkan jika memang untuk menambal ketidaklogisan cerita/  plot hole. Saya sendiri sering memikirkan cerita yang saya buat saat keramas dan tiba-tiba menemukan keganjilan pada cerita yang sedang saya tulis. Babak baru pun saya tambahkan demi menghindari ketidaklogisan.

Apakah kamu terlalu memikirkan reaksi pembaca?
Penulis kadang dihantui perasaan cemas pada kesan orang-orang yang nanti membaca ceritanya. Apakah pembaca menyukainya? Bagaiamana rupa komen/ resensi yang kadang lebih pahit dari butrowali (buah paling pahit untuk jamu)? 
Apakah perlu seperti itu saat awal membuat cerita?
Bagi penulis mula yang belum mempunyai minion (istilah Dimensi Kata untuk menyebut pembaca setia), pemikiran semacam ini begitu menghantui sampai-sampai pada plafrom penulisan daring yang terbit bab per bab, mereka cenderung menuruti keinginan pembaca dari komen-komen yang ada di bab sebelumnya. Misal, seharusnya ada tokoh yang mati dalam ceritanya, tetapi karena ada satu komen pembacanya yang menginginkan tokoh tersebut tidak mati, maka ia mengubah jalan cerita yang malah bikin cerita itu tidak bermutu dan bertele-tele. Karena kurang pengalaman, terjadi plot hole di sana-sini, kelogisan cerita yang runyam, dan penurunan mutu cerita demi memenuhi hasrat pembaca. Namun, ada juga yang bisa lolos dari jeratan pembaca, tidak menulis sesuai keinginan pembaca. Seperti yang dilakukan penulis yang sudah punya fan base dan penulis mula idealis, seperti kami di Dimensi Kata (kalian boleh bilang jancuk, kok). Mereka tetap kekeh pada ceritanya meski banyak hujatan di review buku (untuk buku tamat) atau permintaan pembaca untuk mengubah cerita daring yang terbib per bab. 



Kemudian untuk hasil karya itu sendiri.

Apakah kamu dengan jelas memperkenalkan tokoh utama?
Kebanyakan novel dimulai dengan perkenalan tokoh utama, bisa protagonis atau antagonis. Namun, tidak sedikit juga yang tidak menyinggungya sama sekali. Yang saya tahu adalah naskah holywood, atau novel-novel action/ fantasi yang dibuka dengan adegan seru tanpa melibatkan tokoh utamanya. Semisal dalam novel I am Number Four, Stambul Kembang Ciliwung, atau Equinox. Novel romanlah yang kebanyakan memperkenalkan tokohnya dengan gamblang di awal sebuah cerita. 
Apa perlu seperti itu saat awal membuat cerita?
Jelas perlu, di awal-awal cerita pembaca pasti ingin tahu siapa yang diceritakan. Siapa namanya, apa jenis kelaminnya, berapa umurnya, pekerjaan, bagaimana sifatnya, perawakannya, dan lain sebagainya. Ini perlu agar pembaca punya imajinasi tentang tokoh yang akan dikawalnya dalam sebuah buku. Layaknya setting tempat yang sangat detail, penjabaran tokoh utama dalam cerita pun seharusnya mempunyai prinsip yang sama. Namun, apakah semuanya ditumpahkan dalam bab awal? Jangan! Sekali-sekali jangan. Penempatan pengenalan tokoh utama pada bab awal akan membuat cerita menjadi tidak menarik jika tidak dibarengi dengan sbuah aksi yang memukau, yang memancing rasa penasaran pembaca untuk membuka halaman berikutnya. 
Meskipun dibuat serinci mungkin, pengenalan tokoh bisa disebar di beberapa bagian, bisa dii awal, tengah, bahkan akhir (jika memang penulis ingin menyembunyikan sebagian identitas dari tokoh utama). Saya pikir, pengenalan tokoh yang baik bukan melalui deskripsi. Saya bisa jadi sangat jengkel ketika menemukan nama lengkap tokoh utama, umur, pekerjaan, pada pargraf pertama sebuah cerita. Apalagi jika perkenalan tokoh itu disuguhkan dalam bentuk narasi. Hey, ini novel, bukan curiculum vitae. 
Ada banyak cara memperkenalkan tokoh utama, semisal dengan sebuah kejadian/ konflik. Dari cara si tokoh menyikapi sebuah kejadian, penulis bisa mengarahkan pembaca untuk mengerti karakter dari tokoh utamanya. Seperti Nyai Ontosoroh ketika menghadapi suaminya. Pram tidak menjelaskan dengan narasi bagaimana keras dan tegasnya Nyai Ontosoroh, tetapi melalui dialog dan gestur, nada bicara, dan tindakan yang dilakukannya. 

Apakah kamu menunjukkan sudut pandang dan gaya bercerita?
Bagi penulis, sudut pandang dan gaya penceritaan ini menjadi begitu penting. Sudut pandang ini dipakai untuk membatasi penulis dalam bercerita, apakah serba tahu atau terbatas, atau keduanya jika si penulis menggunanakan dua sudut pandang dalam cerita. Dan menurut saya, tidaklah begitu penting menekankan sudut pandang pada awal penulisan novel. Penulis bisa saja berpindah sudut pandang di tengah-tengah novel, jika memang tuntutannya demikian. Ini terjadi jika penulis ingin mengemukakan sebuah peristiwa yang tidak berhubungan dengan tokoh utama/ ketidakhadiran tokoh utama dalam sebuah peristiwa penting dalam cerita.
Yang perlu diperhatikan adalah siapa yang bercerita dan konsistensi, karena ini akan berpengaruh pada gaya bercerita si penulis. Jika yang bercerita adalah tokoh utama, yang katakanlah seorang remaja berusia empat belas tahun yang tidak begitu pandan dan berasal dari desa terpencil yang tidak terjangkau teknologi. Seyogyanya penulis memakai gaya bahasa remaja yang sesuai, seperti kata ganti orang pertama, jika memakai saya teruslah konsisten memakai saya. Jangan memakai gue, karena dia tidak berasal dari Jakarta. Pun pemakaian bahasa dan pola pikir harus seperti anak usia empat belas tahun. Tidak mungkin ia memakai kata-kata ilmiah yang hanya diketahui orang berpendidikan. Pernah enggak baca cerita beraliran realisme dengan tokoh utamanya bayi dalam kandungan yang diceritakan dengan sudut pandang orang pertama? Tolong kasih tahu saya.

Apakah kamu memperkenalkan tema cerita? Apakah terdapat banyak kejadian?
Dua bahasan di atas akan saya ulas bersama karena saling berhubungan. Perkenalan tema di awal bab adalah sebuah keharusan. Pembaca harus tahu tema apa yang akan disajikan penulis dalam ceritanya sebagai petunjuk. Dan jangan bikin pembaca merasa dibohongi seperti kebanyakan cerita sinetron Indonesia yang dibuka dengan adegan romantis, tetapi ujung-ujungnya ada pocong. itulah mengapa ada pakem yang menyebutkan bahwa bab awal harus disuguhkan dengan sebuah kejadian/ konflik pembuka. 
Selain dengan konflik pembuka, perkenalan tema juga bisa dilakukan dengan pilihan kata dan kalimat. Ada diksi kunci dalam memperkenalkan tema cerita di bab pertama. Misal dalam buku bertema thriller; mayat, darah, tokoh misterius, akan muncul. Begitu pula jika tulisan tersebut bertema horror/ misteri; hantu, kuburan, malam, dll. 
Apakah perlu banyak kejadian dan diksi kunci? Tidak. Ini akan membuat kesan bahwa tulisan yang ditulis kelihatan berat dan bantat, bisa jadi pembaca malas melanjutkan.

Apakah kamu menceritakan status quo tokoh dalam ceritamu? Apakah kamu menyinggung keinginan terbesar dari tokoh utama?
Setiap cerita pasti menjual perubahan tokoh utamanya. Entah itu keadaan sosail ekonomi, fisik dan psikologi, ideologi, bahkan kepercayaan. Saya akan membandingkan dua cerita sebagai ilustrasi bahasan bab ini. 
Semalam saya nonton cerita epic Cinderela, betapa si Upik Abu ini begitu menderita di asal cerita, tetapi kemudian berubah menjadi putri yang paling bahagia di akhir cerita. Ingat dengan kata frase ‘once upon a time’? Cerita Disney punya pakem penceritaan status quo si tokoh di awal cerita. Lain halnya dengan novel Gadis Kretek, si penulis tidak menceritakan status quo tokoh utamannya di awal, tetapi menempatkannya di pertengahan cerita dan bertahap. Si penulis memakai alur mundur, sehingga status quo bisa diabakaian di awal bab.
Jadi, apakah kamu menceritakan status quo pada awal ceritamu? Tidak ada jawaban pasti, terserah penulis mau menceritakan status quo di awal cerita seperti cerita Disney kebanyakan, atau mencicilnya sedikit demi sedikit seperti Gadis Kretek.
Kemudian, apakah kamu menyinggung keinginan terbesar dari tokoh utama?
Saya menyebut keinginan terbesar ini sebagai misi. Cerita Disney, selalu menempatkan misi si tokoh utama di awal cerita. Cinderela ingin menjadi putri. Little Mermaid ingin menikahi pangeran, dan lain sebagainya. Gadis Kretek pun demikian, saat si ayah menyebut nama Yu Yah  dan membuat anak-anaknya mencari tahu siapa Yu Yah yang disebut ayahnya menjelang sakratul maut. Seyogyanya, misi ini ditempatkan di awal cerita seperti dua novel ilustrasi di atas. Ini sangat penting untuk memancing keinginan pembaca berpetualang bersama tokoh-tokoh dalam cerita tersebut untuk menyelesaikan misi.

Apakah ada kejadian yang memicu konfik? Apakah tokoh utamamu melewati batasannya? Apakah kamu menanyakan banyak pertanyaan menarik untuk halaman pertamamu?
Cerita yang menarik akan dimulai dengan konflik. Pertanyaan besar kemudian akan mengikuti, bukan satu, tetapi banyak. 
Eka Kurniawan, dia memancing pembaca dengan (saya belum menemukan istilahnya) mitos, mungkin? Bahwa yang membunuh Anwar Sadad dengan menggigit putus urat lehernya adalah seekor harimau, bukan Margio (Lelaki Harimau), atau meledaknya kuburan Dewi Ayu dan bangkitnya si jasad (Cantik Itu Luka). Kedua tulisan Eka dibuka dengan dahsyat, tetapi tidak padat dan meninggalkan misteri untuk dilacak. Tokoh ciptaan penulis memicu pertanyaan, mengapa Margio membunuhbapaknya sendiri, atau kenapa Dewi Ayu bangkit kembali? Jelas, tokoh ciptaan Eka ini melewati batasan (sehingga memicu konflik berikutnya). 
Sayangnya, membuat cerita menarik tidak mudah. Penulis yang terlalu memakai pakem teori kepenulisan akan terjebak pada ketiga hal di atas dengan membabi buta, membuat bab awal terlalu sesak, bantat, dan tidak memberi kesempatan pada pembaca untuk mencerna dan membuat seolah-olah klimaks dari cerita ada di awal bab.

Johanes Jonaz.
More Stories
kandang babi Mr. Bradley
Kandang Babi Mr. Bradley
error: Content is protected !!