Bendera Karno


Pamekasan, Agustus 1989.

Satu persatu siswa terjerembab pada lapangan beton yang sudah bocel di sana-sini. Pongah hati Karno membuat bocah berdiri laksana kurma di padang gurun. Ada setarik bibir di antara peluh yang menganak sungai dan membanjiri tubuh kecilnya. Karno tidak akan kalah oleh matahari. Bocah itu berbusung dada karena menjadi penghuni terakhir lapangan tiap upacara bendera.

“Senin depan giliran kelas kita yang menjadi petugas upacara,” kata Pak Khamil sambil membetulkan kacamata melorot. “Bukan masalah mental dan fisik, tetapi yang punya jiwa nasionalis tinggi. Tidak boleh ada racun sedikit pun yang mengotori cinta pada negara.” 

Paru-paru bolongnya melempar udara ke kerongkongan, menggelontorkan kata-kata itu hingga papan-papan dinding kelas bergetar, merana karena kelapukannya tersindir. Nama-mana terucap, berdasar kepantasan menurut takarannya. Hingga satu nama hampir tergelincir di ujung bibir ketika ia menatap Karno, Sang Penantang Matahari.  

“Pemimpin upacara kali ini adalah…. Ka…. Kamit, kamu yang jadi pemimpin upacara.” 

Kecut hati Karno namanya batal disebut. Tatapan mata sinis wali kelasnya ditadahi dengan bahu yang naik turun. Ia mengambil tasnya tanpa permisi dan berlari meninggalkan kelas dengan dada yang meledak-ledak digempur kecewa dan sakit hati. Bocah itu baru berhenti saat berada di pematang kebun tembakau. Didapatinya seorang penjaga kebun yang berdiri mengmunggungi matahari, bocah itu memeluk pinggang bapaknya dengan isak tangis.

“Gurumu punya pandangan sendiri tentang nasionalisme, Bapak juga. Dia tidak salah, kamu juga tidak salah. Tidak terpilih menjadi pemimpin upacara bukan berarti kamu tidak nasionalis. Suatu saat kamu akan mengerti dan memilih mana yang benar menurutmu. Sekarang pulang, Bapak masih bekerja,” katanya sambil menepuk punggung Karno.

Karno mengusung baju-baju kotor ke sumur. Seragam hansip bapaknya terjatuh, dengan susah payah dia memakai seragam apak itu. Ia mengendus, campuran aroma keringat bapak dan tembakau memang candu. Ia melongok sumur, melihat bayangan dirinya berbaju hansip. Gagah, tetapi kenapa Pak Khamil tidak memilihnya untuk jadi pemimpin upacara? Kenapa sorot mata itu tertuju padanya, tatapi nama yang terucap bukan namanya?

Ia ingat bapaknya menyimpan beberapa buku, diraihnya kursi pendek untuk menjangkau harta karun bapaknya yang disimpan di atas lemari. Ia pernah terbangun malam-malam dan mendapati bapaknya membaca buku merah dengan khidmat. Ia tahu, di sela kepulan asap tembakau serupa siluman naga, bapaknya mendapat hikmat. Ia mencoba meniru, tetapi semakin lama ia membaca, otaknya main tercerai berai. “Tai kucing,” serunya putus asa.

Bu Endang! Bu Endang mungkin lebih tahu. Dia berlari ke rumah Bu Endang, guru PMPnya yang baru saja selesai sholat, ia bahkan belum mencopot mukena yang dipakai ketika Karno muncul dengan serentetan pertanyaan absurd.

“Apakah saya kurang nasionalis hingga Pak Khamid tidak memilih saya menjadi pemimpin upacara?”

Perempuan yang lantang menerangkan negara dan tetek bengeknya itu tiba-tiba saja gagap. Nyatanya, teori yang diajarkannya hanya pepesan kosong. Ia tidak mampu menilai nasionalisme dari salah satu siswa yang hampir setiap hari menempel di ketiaknya.

“Begini,” katanya dengan suara berat menjaga wibawa. Ia tentu tidak mau kehilangan muka. “Kamu hafal Pancasila? Kamu hafal pembukaaan UUD 1945 dan batang tubuhnya? Kamu bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya? Kamu tahu kapan Indonesia merdeka? Itulah nasionalisme. Pokoknya segala bentuk kecintaan pada negara adalah nasionalisme.”

Karno meringis, baginya jawaban dari ibu guru itu paling benar. Sebelum tidur, ia memelorotkan satu genteng tepat di atas tilam. Dipandangnya gemerlap malam seolah teks maha besar yang disebut oleh Bu Endang tergantung di sana.

Pak Khamil duduk di ruang guru menghadap kopi hitam, sepiring ketan bertabur parutan kelapa, dan rokok kretek yang mengepulkan asap tembakau murah di apitan jari. Sungguh, pagi yang nikmat bagi guru sekolah negeri untuk sejenak melupakan judesnya penagih utang dan beras yang tinggal satu tanakan.

“Pak Khamil, saya mau jadi pemimpin upacara, Pak.”

Rona muka Pak Khamil berubah, pagi nikmatnya rusak oleh wajah muram Karno yang tiba-tiba muncul seperti kerikil yang lolos dari tampian dan ikut tertanak bersama ketan. Ia mengumpat dalam hati, lalu menuntaskan kekesalannya pada seruputan panjang kopi hitam. Karno menunggu, memandangnya tanpa kedip.

“Kenapa kamu pikir bisa menggantikan Kamit jadi pemimpin upacara?”

“Karena saya lebih kuat dari Kamit, Pak. Saya bisa berdiri berjam-jam di bawah terik matahari. Kemampuan baris berbaris saya lebih bagus dari Kamit. Suara saya lebih lantang dari Kamit.”

“Ada satu yang tidak ada padamu.”

Karno tahu jawabannya, ia pun berkata pelan, “Nasionalisme.”

Seperti pesan Bu Endang, Karno mulai menunjukkan nasionalisme dalam dirinya dengan melafal kalimat demi kalimat Pancasila, Undang-undang, dan apa pun yang ia pikir sebagai nasionalisme.

“Cukup!” 

Pak Khamil berteriak, memukul meja hingga kopi dan pisang goreng terlempar. Karno mengkeret, guru gembul itu ternyata bisa bertiwikrama.

“Tidak pantas anak PKI menyebut Pancasila dan Indonesia. Bapakmu tidak pernah mencintai bangsanya sendiri. Dia PKI, mana mungkin punya jiwa nasionalis? Selamanya dia tidak akan pernah punya. Kamu juga! Tidak akan pernah kamu cintai negerimu dengan benar. Sekali pengkhianat, tetapl pengkhianat! Itu sudah turunan! Dan ingat, sampai kapan pun kamu tidak akan pernah jadi petugas upacara!”

Bapak! Karno harus bertemu Bapak. Ia menyisir kebun tembakau yang dijaga bapaknya, tetapi sejauh mata memandang hanya hitam yang tampak. Pos jaga tempat bapaknya berjaga pun kosong, bahkan tungku tanah untuk menjerang air tidak berbara. Angin pancaroba di akhir musim kemarau selalu meniup dingin yang mengiris. Namun, bukan itu yang membuat Karno menggigil. Diambilnya beberapa kerikil dan melempar dengan kesal, meneriaki gurunya dengan umpatan.

“Tidak ada gunanya melempar udara, lemparlah yang berwujud. Tapi, jika kamu merasa lega karena melakukan ini, jangan lakukan sendiri. Sini, Bapak bantu.”

Lelaki kurus mengambil kerikil, lalu ikut melempar dengan sembarang, katanya, “Guru sialan! Pergi kau jahanam, semoga kepalamu tertimpa bongkahan rembulan supaya pikiranmu terbuka. Enyah kau Khamil! Urusi saja utangmu yang beranak pinak itu!” 

Karno terkekeh, sakit hatinya sudah larut ke udara bersama batu-batu yang terlempar dan cacian bapaknya. 

“Bagaimana? Sudah lega?” tanya bapaknya. “Jika sudah, nyalakan api. Kamu mau menemani Bapak jaga, bukan?”

“Karno ingin menggantikan Kamit menjadi pemimpin upacara. Tapi Pak Khamil malah marah besar,” kata Karno sambil menjerang air. “Dia bilang Karno tidak tidak pantas menyebut Pancasila dan Indonesia, karena Karno anak PKI.” 

“Pak Khamil benar. Kamu memang anak penganut faham komunis. Tapi selebihnya ia salah. Selain darah, tidak ada hal lain dariku yang bisa disangkutpautkan denganmu. Kamu bisa berganti nama, bisa berganti pandangan, pun berganti keyakinan. Kamu boleh menyebut apa pun yang kamu mau, tidak ada yang bisa mengatur apa yang keluar dari hati dan mulutmu. Ingat, Nak. Kamu punya ikhtiar sendiri atas hidupmu.” 

“Pak Khamil bilang, Bapak tidak nasionalis.”

“Menurutmu?”

Karno menggeleng. Bukannya tidak setuju, tetapi karena masih kabur dengan arti kata itu. Tiga orang yang yang dikenalnya punya pandangan berbeda; Bu Endang, Pak Khamil, dan bapaknya. Seperti kerik jangkrik di malam ini, mereka membunyikan makna kata itu berbeda-beda. Mana yang harus dianut, bocah itu tidak tahu.

“Bapak mencintai negeri ini, hanya saja caraku tidak diterima di negeri yang sudah telanjur korup ini. Mereka yang mengaku nasionalis terlalu takut untuk memeluk paham lain, takut dengan kepentingan yang berseberrangan. Padahal, jika mereka berani…. “ 

Lelaki kurus itu menahan cerita, menggantinya dengan suara seruputan kopi yang terdengar merdu, tersangkut rumput-rumput kumis di atas bibir. 

“Jika saja mereka berani, kebun tembakau ini akan akan digarap oleh para petani dan hasilnya dimakan bersama, bukan dikangkangi juragan tembakau. Pak Khamil pun tidak akan marah-marah dan menyalahkanmu karena punya bapak penganut faham komunis. Dia akan sibuk menghitung besar gajinya, bukan utang. Niscaya dia akan dengan bahagia mengajar di sekolah.”

“Dan Bapak?” 

“Bapak tidak akan jadi kacung saudagar tembakau dan menjaga kebun setiap malam. Bapak tidak akan gamang setiap kali meningalkanmu kebingungan mengerjakan PR sementara Bapak harus berangkat jaga. Akan Bapak ajari menamai benda langit yang hanya muncul di malam hari sampai kamu tidur dalam dekapan Bapak. Dan kamu?”

“Aku bisa menjadi petugas upacara, mengibarkan bendera dann menyanyikan lagu kebangsaan.”

Mereka berdua terkekeh sepanjang malam hingga falak di timur samar terlihat. 

“Nak, ingatlah. Nasionalisme itu ada di sini,” kata Bapaknya menunjuk kepala Karno, “dan di sini,” Jarinya beralih ke dada Karno.

Pagi itu sekolah gempar, burung emprit yang memenuhi pohon maja di halaman berhamburan terbang lantaran murid-murid yang berkerumun dekat ruang kepala sekolah. Pusat kericuhan ada di sana, bisik-bisik di antara para guru perihal ketabuan itu menggelinding menjadi obrolan tanpa dinding, menyalak pada seorang siswa yang duduk di kursi pesakitan tanpa pembela. 

“Lebih baik dikeluarkan dari sekolah, aib yang dia bawa tidak bisa dikesampingkan begitu saya,” kata Pak Khamil sambil mengelus janggut, “berbahaya.”

“Kenapa saya dikeluarkan?”

“Karena kamu sudah teracuni. Kamu PKI, tidak nasionalis. Kalau kamu nasionalis, tidak mungkin kamu menggambar ini,” kata kepala sekolah sambil menunjuk gambar karno. 

Pagi tadi saat pelajaran seni lukis, Karno menggambar bendera palu arit dan bendera Indonesia berdampingan. Di bawahnya ada tulisan ‘Komunis adalah nasionalis.’

“Saya nasionalis, degan cara saya,” kata Karno dengan mantap.

More Stories
review vegetarian - han kang
Vegetarian: Andai Bisa Hidup Hanya Mengandalkan Cahaya
error: Content is protected !!