Anak-anak Pantai Cerpen
Anak-anak Pantai Cerpen

Anak-anak Pantai [Cerpen]

Anak-anak Pantai Cerpen
Release Date
May 20, 2015
Cerpen
Anak-anak Pantai
SETIAP hari aku bersama tiga temanku mencari kerang di tepi pantai. Kami bisa mengumpulkan satu ember penuh jika beruntung, jika tidak hanya setengah saja, dan menjualnya di restoran Paman Son. Setelah itu, kami pulang untuk sarapan.

Jaret yang berbadan gemuk, akan mengeluh dalam perjalanan pulang. Ia selalu berkata ibunya tidak kreatif, dan hanya memasak ikan asin, atau udang kering yang ditumbuk halus. Usianya baru 12 tahun satu bulan yang lalu, dan mengaku telah jatuh cinta pada salah satu pelayan di restoran Paman Son, Beryl.
Aku pernah bertemu Beryl dan berbincang dengannya. Ia gadis berumur 16 tahun dengan dada yang hampir meledak, padahal tubuhnya bisa dibilang kurus. Seksi, menurut pengakuannya. Ia sangat suka berbicara tentang bintang-bintang. Ia akan tiduran di atas atap rumahnya pada malam hari, dan tidak memakai baju.
“Bintang-bintang suka pada tubuh telanjang,” katanya suatu hari. “Karena tubuh telanjang lebih mirip binatang yang sadar diri, daripada binatang yang memakai bikini, atau baju tipis, atau sedikit, atau ketat, yang akan terlihat konyol jika marah pada pejantan yang sedang berahi, disebabkan gaya pakaian mereka itu.”
Aku tidak paham kata-kata itu, dan temanku, Ismi menyarankan agar aku tidak mendekati Beryl lagi. Begitu pula Sonia, temanku yang lain. Mereka selalu menasihatiku setiap ada kata-kata yang tidak aku mengerti, dan diucapkan oleh orang dewasa. Alasan mereka selalu sama: aku masih terlalu kecil. Padahal umur mereka juga masih 12 tahun, beda tiga tahun denganku.
Setelah sarapan, aku, Ismi dan Sonia akan pergi ke pantai. Duduk di bawah payung besar yang sudah tertancap di sana, menunggu orang-orang dengan bahasa aneh untuk berjemur. Mereka akan memanggil kami dengan lambaian tangan, dan menyerahkan botol-botol berisi air agak kental yang licin. Tanpa bicara atau isyarat apapun, kami akan melumuri tubuh mereka dengan cairan itu. Seluruh tubuh mereka.
Kami biasanya berempat dengan Jaret, tapi orang-orang berbahasa aneh itu tidak suka pada anak yang telah berumur lebih dari 10 tahun untuk menyentuh kulitnya. Entah karena alasan apa. Dan bagian yang paling kusuka saat melakukan pekerjaan itu adalah, melumuri dada mereka yang membulat. Rasanya kenyal dan enak kalau dipegang. Aku akan berlama-lama di sana, sebelum melumuri bagian lain. Selain itu, bagian pantat dan pahanya juga empuk. Jika aku ketahuan berlama-lama pada bagian itu, orang-orang yang meminta jasaku hanya tersenyum dan berkata dengan bahasa aneh sambil memukul tanganku pelan.
Kami akan berada di sana, dan melumuri orang-orang dengan badan besar itu sampai pukul sembilan atau sepuluh. Aku selalu mendapatkan perempuan, sementara Ismi dan Sonia kebanyakan laki-laki, meski mereka terkadang mendapatkan perempuan.
Setelah pekerjaan itu, kami akan pergi ke pasar dan membeli permen, atau makanan kecil yang dibungkus plastik, dan menemui Jaret yang bekerja sebagai penjaga lapak ikan. Ia akan selalu bertanya padaku, apakah ada dada yang besar di pantai, atau apakah aku sempat melihat bulu kemaluan. Saat seperti itu, Ismi dan Sonia akan menyeretku untuk pulang, atau bermain di atas batu karang.
Ismi suka bercerita, ia akan menceritakan apa saja. Aku rasa itu alasan kenapa tubuhnya kecil, sementara Sonia sedikit besar dan aku heran kenapa perutnya tidak melengkung seperti punya Jaret. Dadanya pun sudah membentuk bulatan, meski tidak sebesar orang-orang yang berjemur di pantai.
Saat kami menuju ke pantai dengan batu karang yang bermunculan dari balik pasir, kami melihat tubuh perempuan tergeletak di tepi pantai. Bergerak-gerak karena hempasan ombak. Kami mendekat dengan hati-hati, dan terkejut secara bersamaan saat melihat tubuh itu.
Ia seorang perempuan yang cantik dengan rambut hitam bergelombang. Matanya terpejam, dan bibirnya semerah cabe rawit. Ia tidak memakai apa-apa, tapi bukan itu yang mengejutkan kami. Tubuh bagian bawahnya—dimulai dari bawah pusar—bersisik seperti ikan. Bahkan ada sirip dan ekor yang sangat serupa ikan.
“Itu putri duyung!” pekik Ismi, lalu terjatuh ke pasir. Pingsan.
Sementara Sonia menyuruhku untuk menyeret perempuan yang kata Ismi putri duyung itu ke ceruk yang terdapat di batu karang. Setelah itu, kami juga membawa Ismi ke sana.
“Jika orang tahu ada putri duyung terdampar, hidup kita pasti berakhir,” kata Sonia dengan ketakutan yang tidak aku mengerti.
Lalu Sonia menjelaskan lebih jauh. Orang-orang akan berdatangan, baik untuk melihat ataupun mencari berita. Lebih buruk lagi, orang-orang rakus yang ingin memiliki putri duyung itu, dan mereka tidak segan-segan membunuh siapa saja untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, bahkan menyingkirkan kami yang mengetahui keberadaan putri duyung tersebut.
Ismi sadar setengah jam kemudian, tepat ketika tubuh bagian bawah putri duyung itu berubah menjadi kaki, dan Ismi segera menutup bagian yang berada di bawah pusar dengan sapu tangan yang ia bawa.
“Kamu melihatnya?” katanya padaku.
Aku menggelengkan kepala, meski sempat melihat lengkungan yang ditumbuhi rambut. Lalu Ismi bertanya sebelum Sonia melihat kebohonganku.
“Apa ia putri duyung tadi?”
“Iya, ia orang yang sama.”
Kami menunggu di dalam ceruk batu. Menunggu putri duyung itu sadar, yang sangat membuatku lelah. Aku akan jatuh tertidur jika tidak begerak, dan Sonia menyuruhku dan Ismi untuk membeli makanan dan minuman di toko dekat pantai, karena sudah waktunya makan siang. Sementara ia akan menjaga putri duyung tersebut.
Di tengah perjalanan untuk membeli makanan, Ismi berkata bahwa air mata putri duyung yang sudah mengering akan berubah menjadi mutiara: benda bulat yang indah dengan harga mahal. Aku berkata bahwa aku tidak percaya hal itu, dan kami sepakat untuk membuktikannya setelah kembali.
Dan apa yang dikatakan Ismi memang benar. Putri duyung itu telah sadar. Ia duduk sambil menyeka matanya yang basah, dan di bawah kakinya banyak mutiara berserakan. Ismi menyenggolku sebelum pergi ke arah Sonia dan bertanya apa yang terjadi.
Sonia bercerita bahwa mereka putri duyung itu bernama Elmia, putri dari raja duyung Edria, dari kerajaan Filia yang berada dekat dengan pantai kami. Elmia kabur dari istana bawah lautnya setelah dipaksa menikah dengan putra duyung yang tidak ia suka. Tapi dalam perjalanan itu, ia bertemu tiga ikan hiu yang berusaha menyantapnya. Ia bertarung dengan mereka, lalu tak sadarkan diri dan bangun di ceruk batu tebing dengan Sonia.
Setelah makan siang bersama putri duyung itu, ia mengajak kami ke tepi pantai dan menyelam. Katanya, bangsa duyung dilarang keras membawa manusia ke bawah laut. Mereka akan segera membunuhnya jika ketahuan, tapi tidak dengan anak-anak yang berumur di bawah 13 tahun. Dengan membawa kami ke kerajaannya, mungkin ayahnya akan menghukumnya dan mengembalikan kami ke pantai. Dengan hal itu, ia bisa membatalkan pernikahan yang dipaksakan itu. Siapa sih yang mau menikah dengan gadis yang melanggar aturan?
Tapi, kami tidak serta merta bisa ikut menyelam dengannya, karena kami manusia yang tidak bisa bernapas di dalam air. Untuk masalah itu, kami disuruh telanjang dan ia akan memeluk kami selama tiga menitan, lalu terjun ke laut.
Ketika itu, Sonia menampakkan wajah tidak suka. Ia menyuruhku untuk diam saja saat dipeluk oleh Elmia si putri duyung, dan ia melarangku untuk melihat tubuh telanjangnya. Sementara Ismi tidak peduli sama sekali. Ia tampak begitu senang karena bisa melihat dunia putri duyung secara langsung. Ia bahkan tidak peduli pada mataku yang melihat tubuhnya.
Setelah masing-masing dari kami menerima pelukan, Elmia berjalan ke air. Setelah ia tenggelam sampai lutut, kakinya perlahan berubah menjadi ikan dan langsung berenang ke tengah. Kami mengikutinya. Setelah agak ke tengah, ia menenggelamkan diri. Kami pun melakukannya.
Anehnya, aku bisa bernapas meski di dalam air. Hidungku bisa menghirup udara sebagai mana biasanya, dan mengebuskannya sebagai gelembung. Aku melihat ke arah Ismi yang tersenyum padaku, lalu Sonia yang menyuruhku untuk berbalik dan berusaha menutupi dada dan bagian tubuh di bawah pusarnya dengan tangan. Sementara di depan, Elmia menyuruh kami untuk mengikutinya.
Kami terus turun ke bawah, melewati beberapa ikan yang berbaris rapi, mulai dari seukuran jari tangan sampai sebesar tubuh orang dewasa. Dan semakin dalam, cahaya semakin redup. Tapi ekor Elmia bersinar cerah, menuntun kami di depan.
Sekitar lima belas menit kemudian, sebuah kota dengan bangunan berbentuk bulat terlihat di kejauhan. Kota itu berada di dalam sebuah bola besar dengan dua ikan yang berjaga di pintunya. Ketika tiba di sana Elmia memerintahkan dua ikan yang mempunyai dua kaki dan tangan itu untuk membuka gerbang, tapi mereka tidak segera menjalankannya. Mereka melihat aku, Ismi dan Sonia, dan bertanya apakah kami manusia?”
“Bodoh,” ujar Elmia. “Mana mungkin manusia bisa menyelam sampai ke sini, tanpa bantuan alat pula. Cepat buka gerbangnya, kalian mau kuadukan pada ayahanda.”
Mendengar itu, kedua penjaga itu terlihat takut dan segera membuka gerbang yang berbentuk bulat itu., tapi sebelum kami sempat masuk ke sana, tiba-tiba seorang dengan tongkat seperti garpu makanan muncul dari dalamnya. Ia lebih besar dari Elmia, meski tubuhnya terliha sama. Ia berjenggot dan memakai mahkota di atas kepalanya. Ia melihat kami dengan pandangan yang tak bisa dimengerti, lalu melihat Elmia yang tampak gemetar.
Dalam satu kali ayunan tongkat, Elmia menghilang di depan mata kami. Dan satu ayunan lagi membuatku tidak sadarkan diri. Dan terbangun di tepi pantai tempat kami berangkat tadi. Aku bahkan melihat baju kami di atas pasir.
Ismi dan Sonia masih pingsan saat aku sadar. Kesempatan itu tidak aku lewatkan untuk melihat tubuh Sonia yang berusaha ia tutupi tadi. Tapi ketika kepalanya bergerak, aku segera merebahkan diri di pasir dan pura-pura masih pingsan.
Aku dengar Sonia segera lari ke bajunya, dan memakainya cepat-cepat. Lalu ia bangunkan Ismi dan menguruhnya untuk segera berpakaian. Terakhir, ia membangunkan diriku dan melemparkan bajuku. Setelah itu, ia menyuruh kami untuk melupakan segalanya yang terjadi, atau kami akan dianggap gila. Aku mengangguk mengerti.
Kami kembali ke pantai di mana orang-orang berbahasa aneh itu berjemur. Selain pagi hari, sore hari juga banyak dari mereka yang pergi hanya untuk membakar kulit mereka dengan sinar matahari. Meski tidak seramai pada pagi hari, tapi uang yang kami dapat bisa digunakan untuk jajan di malam hari.
Setelah itu, kami pulang ke rumah untuk makan malam, dengan ikan dan nasi yang tidak pernah putih.
 
20-Mei- 2015
Event status
Not started
More Stories
Thirty Things I Want To Do