Semua Untuk Hindia – Kumcer kolonial yang penuh kejutan

Pacar saya merekomendasikan buku-buku Iksaka Banu untuk saya baca lantaran saya senang menulis historical romance. Lalu saya pilih satu buku: Semua Untuk Hindia. Saya pikir buku ini berupa novel, tetapi ketika saya mendapatinya ternyata adalah kumpulan cerpen dengan latar kolonial.


Iksaka Banu, menurut pacar saya adalah penulis dengan ladang historical fiction. Dari buku ini, saya bisa melihat jika penulis memang mempunyai pengetahuan luas tentang zaman cerita yang ia tulis. Ia pandai mengangkat sebuah objek pada zamannya dan menmbuatnya sebagai sebuah cerita yang menakjubkan. Misalnya saja, dalam cerita Racun Untuk Tuan, saya senyum-senyum sendiri saat ia menyebut kebaya putih sebagai status sosial seorang nyai pada zaman itu. Gaya penceritaan penulis pun membuat saya betah tidak berhenti membaca cerpen demi cerpen dalam buku ini.

Kumcer ini juga penuh dengan kebetulan-kebetulan yang manis, persis seperti yang ditulis pada kata pengantar buku. Siapa sangka jika cerita tentang seorang tahanan non pribumi di penjara bawah tanah akan berujung pada pertemuannya dengan Pangeran Diponegoro, atau cerita seorang dokter yang bertemu rombongan misterius saat kereta kuda yang dikendarai masuk jurang adalah cerita tentang Untung Surapati? 

Saya paling suka dengan cerita Stambul Dua Pedang. Sebuah roman panas hubungan seorang nyai dengan pementas yang sekali lagi cukup mengejutkan. Tokoh nyai dalam cerita ini tidak digambar lemah seperti pada umumnya, tetapi juga tidak seperkasa Nyai Ontosoroh. Nyai dalam kisah ini begitu manusiiawi, masih ada kegetiran dan ketakutan pada suami belandanya, tetapi berhasrat sama besar seperti layaknya manusia. Dalam batasan kata sebuah cerpen, penulis menyuguhkan begitu banyak detail. Dialognya kuat, alur maju mundur yang digunakan membuat cerita ini cantik bentuknya. Sekali lagi, saya menemukan fakta bahwa si penulis memahami betul latar yang ia pakai; Riboet Orion, sebuah grup tonil yang beken pada zamannya.

.

More Stories
Vegetarian: Andai Bisa Hidup Hanya Mengandalkan Cahaya